IGMO Lepas Album Ke-2 “Absurd, Artificial, Potential”

IGMO (istimewa)

 

Jakarta, DJC – Band rock yang sudah bekecimpung di pentas musik di kota asalnya, Kediri, baru saja melepas “Absurd, Artificial, Potential” (AAP) yang merupakan studio album mereka yang ke-2. Di album ini, IGMO mengangkat tema berbeda jika dibangdingkan dengan debut album mereka “Take It Ove” (2022). Menurut band yang berawak Pradio (vocal, gitar) Iga (gitar), Bintang (drum), dan Anggra (bass) ini mengungkapkan, jika di debut album bertema kegelisahan yang berpusat dari diri sendiri, maka di album ke-2 ini adalah gambaran individu yang terjebak dalam hal-hal yang lebih besar, macam sistem & struktur di sekitar mereka.

            Semua lagu di album ini ditulis oleh Paradio (Dio), yang mengatakan, “Suatu sistem seakan sengaja dibuat rancu untuk menyembunyikan celah-celah potensial untuk kepentingan perorangan maupun kelompok kecil. Yang menarik adalah bagaimana membuat sistem itu terlihat sesempurna mungkin dalam persaingan antar sistem untuk kepentingan yang lebih besar.”

Sedang menurut, Iga, gitaris yang juga menjadi artworker album ini menambahkan, “AAP ditulis pasca kuliah. Jadi pasti ada perbedaan sudut pandang dibandingkan Take It Over yang dibuat saat masih mahasiswa-”

Secara musikal, AAP sajian rock tingkat lanjut yang penuh eksplorasi. DNA-nya rock, tapi punya serbaneka lintas-aliran di dalamnya. Dio menuturkan bahwa album-album SWAMI, The Black Angels, Nick Drake, Renaissance, Royal Blood, hingga Pink Floyd menjadi saripati dari album terbaru mereka tersebut.

‘Curriculum’ (single pertama) misalnya, merupakan alunan rock groovy dengan beragam kejutan musikal, mulai dari heavy metal, kocokan ska, sampai sekelebat pelog Jawa ada di dalamnya. Crossover unik lainnya adalah di lagu ‘Randall & Goby’ dimana mereka menyertakan instrumen darbuka yang biasa hadir dalam musik sholawat, lalu men-twist-nya menjadi paduan bernuansa medieval.

“Kami ingin menantang diri kami sendiri. Seberapa jauh kami bisa mengembangkan musik yang kami cipta dan mainkan,” ungkap Dio menambahkan.

Saat proses rekaman, album ini diproduksi oleh Dio dan direkam di tiga studio: Sebagian besar instrumen di RD Studio (Kediri), beberapa tambahan di Turtle’s Home Studio (Kediri), sedangkan drumnya direkam di studio Malang Creative Center (MCC) Malang. Seperti album pertama, proses mixing dan mastering tetap diserahkan kepada Yasa Wijaya dari Vamos31 Studio, Malang. (sTr)

 

 

 

Diberdayakan oleh Blogger.