Peran Anak Muda Giatkan Wisata & Budaya Kota Sintang

Ki-Ka La Ode Saiful Rahman, Paris Ramadhan, Febrian, Restiana Purwaningrum, Boby Oktavianus
  

Tanggerang, DJC – Banyak kota di Indonesia yang memiliki potesi wisata dan ke-unikan budaya yang sangat otentik. Akan tetapi diakui, banyak daerah yang harus lebih intens lagi memperkenalkan potensi budaya dan wisata di kotanya. Untuk itulah Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) menggelar talkshow bertajuk "Jelajah Sintang Lestari Melalui Ekowisata Berbasis Budaya: Cerita dari #ExploNation" yang berlokasi di ICE BSD, Tangerang (28/8/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Sustainable District Outlook (SDO) 2025. Acara ini merupakan puncak dari program ExploNation yang mengajak para influencer dan pemuda lokal untuk bertukar pikiran dan menyelami praktik ekonomi restoratif secara langsung melalui ekowisata di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

ExploNation ini menjadi wadah orang muda yang berkolaborasi untuk menjaga dan memperkenalkan budaya daerah asal. Dimana program ExploNation kali ini melibatkan 14 orang muda dari Sintang, Sanggau, dan Kapuas Hulu sebagai "penutur lokal" yang aktif mendokumentasikan dan menyebarkan cerita dari daerahnya. Keterlibatan ini diharapkan dapat membangun gerakan yang berbasis partisipasi pemuda dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, dimana para pemuda juga turut belajar melalui workshop: Travel and Food Content Making.

            Gelaran talkshow yang menarik ini menghadirkan beberapa nara sumber yang cukup kompeten yang dapat memperkenalkan potensi Kebupaten Sintang. Nara sumber tersebut antara lain; Febrian, seorang travel blogger yang dikenal kerap mendokumentasikan keindahan alam Indonesia, dan La Ode Saiful Rahman, jebolan Top 10 MasterChef Indonesia Season 8. Dimana keduanya telah melakukan explorasi budaya, wisata dan juga kuliner khas di daerah Sintang.

            Diadakan di Hall Nusantara 3 ICE BSD, kegiatan ini berlangsung dari jam 13.00 WIB sampai selesai. Dipandu oleh Restiana Purwaningrum, Lead Project Festival Lestari sebagai moderator talkshow. Di gelaran ini juga menghadirkan Boby Oktavianus, Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Sintang, dan Paris Ramadhan yang mewakili anak muda kabupaten, yang juga telah mengikuti kegiatan ExploNation diatas.

"Program ExploNation diluncurkan sebagai wadah kolaboratif untuk memperluas pemahaman dan partisipasi publik terhadap praktik ekonomi restoratif melalui ekowisata berbasis budaya pada daerah vital Sintang yang menempatkan kekayaan alam, budaya, dan pangan sebagai aset regeneratif. Dengan melibatkan para content creator dan pemuda lokal, program ini mengajak semua orang untuk mengangkat cerita-cerita baik kekayaan alam dan budaya Sintang sebagai landasan pemulihan lingkungan yang menjadi nilai ekonomi berkelanjutan bagi masing-masing daerah," Ungkap Restiana Purwaningrum, saat membuka talkshow.

Febrian menambahkan, “Saya sudah sepuluh tahun melanglang buana dari Sabang sampai Merauke. Tapi pengalaman di Sintang benar-benar berbeda, di mana kami bisa hidup bersama, berdampingan dengan masyarakat Sintang dan alam. Di sana saya juga belajar bahwa ekonomi restoratif ternyata bukan cuma menghentikan kerusakan yang sudah terjadi, tetapi juga mencoba memulihkan atau merestorasi kembali berbasis sosial budaya. Dan tentu diiringi perkembangan ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Seperti saat saya melihat langsung masyarakat Dayak yang hidup di wilayah Rimba Gupung. Mereka bercocok tanam di hutan, menjadikan hutan sebagai sumber air, sekaligus dapat mengembangkan perekonomiannya.”

Lebih lanjut, La Ode menngungkapkan, “Pengalaman perjalanan ini sangat berkesan bagi saya karena saya tumbuh di wilayah dekat dengan laut, sementara dalam ExpoNation saya diajak melihat teman-teman di Sintang hidup berdampingan dengan hutan. Kami sempat masuk hutan, mempelajari tumbuhan yang bisa dikonsumsi. Sebagai seorang chef, saya membantu bagaimana makanan-makanan lokal tersebut bisa lebih menarik. Dari perjalanan ini dapat disimpulkan bahwa makanan bukan sekadar dikonsumsi, melainkan penopang ekonomi restoratif sekaligus sarana mempertahankan budaya lokal.

Sedangkan menurut Boby Oktavianus, menjelaskan “Kami tentu berharap kegiatan-kegiatan seperti Explonation yang melibatkan anak muda Sintang bisa diteruskan. Dan kami meyakini, kunci dari model ekonomi restorasi ada pada anak muda. Harapan kami, tentu Sintang itu tidak hanya maju dari ekonomi saja, juga lingkungannya terjaga dan kehidupan sosial budayanya juga bisa terangkat. Sintang juga sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten kolaborasi. Jadi harapannya semakin banyak mitra-mitra dari lokal maupun dari nasional, internasional bisa bergabung untuk sama-sama membangun Sintang.”

Sebagai perwakilan anak musa, Paris menyatakan, “Sebagai orang muda di kabupaten, perjalanan ExploNation membuat saya seperti kembali ke akar. Dari Rimba Gupung hingga sastra lisan Bedudu dan Bekana, saya tersadar bahwa potensi budaya dan alam di daerah sendiri begitu besar. Tantangannya memang ada, tapi justru melalui kerja kolektif dan jejaring, kami bisa mengemas lokalitas ini menjadi relevan dan dinikmati lebih banyak orang.”

Pengunjung dapat menikmati resep khas Sintang, lewat racikan La Ode Saiful Rahman
 

Tak hanya menggelar talksow, di kegiatan kali ini juga menghadirkan pameran foto dan video, serta peluncuran mini buku resep hidangan lokal yang lahir dari perjalanan tersebut. Dokumentasi tersebut merangkum interaksi Febrian dan La Ode bersama masyarakat Dayak Desa, dari kehidupan di Rumah Betang Ensaid Panjang, eksplorasi hutan yang masuk ke dalam area Rimba Gupung, hingga regenerasi kain tenun ikat Dayak Sintang dengan pewarna alami.

Rimba Gupung sendiri menjadi contoh nyata bagaimana Kabupaten Sintang mengelola hutan berlandaskan tradisi dan pengetahuan lokal, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat. Model pengelolaan ini telah mendapatkan pengakuan resmi melalui peraturan daerah, menegaskan komitmen Sintang untuk menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan warganya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, La Ode bersama tim Culture Collar meluncurkan mini magazine buku resep "VOYAGE ExploNation - Hiding in Plain Sight: Resep Tualang dari Kalimantan Barat" di salah satu booth pameran yang dirancang khusus untuk memberikan informasi terhadap kompilasi resep-resep khas berbahan sumber pangan lokal yang ditemui selama perjalanan, seperti Liak Jahe Ladang dan Pekasam Ikan, serta cerita di balik setiap bahan dan tradisi pengolahannya. Booth tersebut juga menyajikan sampel makanan khas Kalimantan Barat mulai dari Rujak Dayak hingga Es teh Buah Maram bagi para pengunjung.

Melalui karya visual ini, pengunjung dapat melihat Sintang dari dekat: bagaimana hutan, budaya, dan pangan setempat dijaga dan dihidupkan kembali sebagai bagian dari praktik ekonomi restoratif. (sTr)

 

 

Diberdayakan oleh Blogger.