“Good Luck, Have Fun, Don't Die” Saat Dunia Dikuasai AI
Jakarta, DJC – Beberapa waktu
terakhir film bergenre fiksi ilmiah termasuk jarang dirilis. Akhirnya sutradara
Gore Verbinski membesut film bergenre tersebut bertajuk
“Good Luck,
Have Fun, Don't Die”
yang dibalut dengan nuansa komedi. Film yang berlatar belakang di kota Los
Angeles USA ini, naskahnya ditulis oleh
Matthew Robinson.
Sebuah film fiksi ilmiah komedi yang bercerita tentang bahaya kecerdasan buatan
(AI) yang bisa mengontrol dunia, dan hadirnya sosok penjelajah waktu dikirim ke
masa sekarang untuk menyelamatkannya. Saat penayangan perdana di gelaran Fantastic Fest 2025 dan dirilis di Amerika Serikat pada 13 Februari
2026 lalu
oleh Briarcliff Entertainment, film ini
mendapat respon yang positif. Film ini dibintangi
oleh Sam Rockwell, Haley Lu Richardson, Michael Peña, Zazie Beetz, Asim
Chaudhry, Tom Taylor, dan Juno Temple.
Berkisah, di
sebuah restoran sekolah, beberapa guru dan wali murid sedang melepas beban
pikiran dari berbagai kekacauan yang terjadi di sekolah tersebut. Selain terjadinya
penembakan, juga ketergantungan murid-murid pada ponsel yang tak bisa dikontrol.
Tiba-tiba muncul seorang dengan penampilan aneh (Sam Rockwell)
ditengah restoran dengan cara yang tak kalah aneh. Sosok ini mengaku dari masa
depan, yang dikirim kemasa kini bertujuan untuk menyelamatkan dunia yang telah
dikuasai dan semakin dikontrol oleh tehnologi. Sosok ini mengajak beberapa
orang untuk bergabung membantunya. Beberapa orang yang sudah penat mengabaikan,
hingga akhirnya seluruh murid di sekolah itu bertindak aneh seperti terhipnotis
menyerang restoran itu secara bersama-sama. Tak hanya itu, pihak kepolisian malah
datang dengan ganas dan juga mengincar mereka.
Sosok dari masa depan ini,
sebenarnya tak banyak paham bagaimana cara mengatasi kekacauan tersebut, akan
tetapi berusaha tetap meyakinkan beberapa orang untuk mengikutinya. Dia punya
disk yang menurut masa depan bisa menyelamatkan dunia dari dominasi AI yang menghipnotis
seluruh warga yang terhubung dengan ponsel. Tujuan utamanya adalah menemukan anak
jenius berusia 9 tahun pencipta tehnologi AI, sebuah tehnologi yang dimasa
depan akan semakin bermasalah. Mau tak mau, beberapa orang akhirnya bergabung
sekaligus untuk cari selamat. Akan tetapi mereka hanya masyarakat biasa (tak terlatih)
yang harus mengemban tugas berbahaya. Kelompok kecil ini tentunya bukan pasukan
yang bisa diandalkan untuk aksi heroik tersebut. Apalagi mereka harus
menghadapi berbagai kelompok dan karakter ganas yang diciptakan tehnologi AI.
Nama Sam Rockwell
menjadi jaminan untuk memerankan tokoh aneh yang tak punya pengalaman bertarung.
Didukung dengan berbagai peran disekitarnya. Misalnya muka polos Ingrid
(Haley Lu Richardson) sebagai wanita yang memiliki alergi
aneh yaitu pada gadged dan Wifi. Susan (Juno Temple) orangtua
tunggal yang terkesan kikuk dan barusaja kehilangan anaknya yang ditembak di
sekolah. Mark (Michael Peña) dan Janet (Zazie Beetz) sepasang guru yang pasrah pada tekanan
kerja di sekolah. Scott (Asim Chaudhry) warga yang
skeptis pada kedatangan orang dari masa depan. Nama-nama tersebut sanggup memerankan
karakter diatas dengan apik. Memerankan sekumpiulan ‘orang biasa’ yang harus
berjuang melewati banyak bahaya. Kisah beberapa karakter yang harusnya berlawanan
yang akhirnya bisa bekerjasama ini justru membuat kisah di film ini semakin
menarik, tak hanya sukses menghadirkan ketegangan, tapi sekaligus kelucuan.
Sekilas, cerita di film mengingatkan
pada film iconic “The Terminator”
(1984) besutan James Cameron yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger.
Menampilkan sosok dari masa depan yang berusaha mengubah masa lalu, karena
kemanjuan tehnologi yang tak terkontrol. Akan tetapi film ini tak hanya menampilkan
fiksi ilmiah tentang AI yang memang lagi popular saat ini, akan tetpi juga
menghadirkan berbagai petulangan seru dan menegangkan. Dan yang lebih menarik, film
ini terasa beda karena banyak balutan komedi situasi yang kerap terjadi di
beberapa adegan. Hal ini menjadi wajar, saat sekumpulan orang biasa yang
canggung harus menghadapi kejahatan luar biasa.
Walau inti cerita sebenarnya tak
terlalu rumit, akan tetapi sutradara dan penulis tak membuat kisah di film ini
mudah ditebak. Selain adanya plot twist
di ending film, sutradara Gore Verbinski membesut film ini dengan menampilkan flashback dari kisah beberapa tokoh secara
berurutan, dimana hal ini akan semakin memperkuat latar belakang kisah di film
ini hingga membuat ceritanya semakin gamblang. Dan yang lebih menarik lagi,
film ini justru hadir dengan ending
yang jauh dari harapkan semua orang. Film “Good Luck, Have Fun, Don't Die” sepertinya memang
sengaja memutar balikkan imajinasi para penontonnya, yang akan membuat kamu
terasa semakin penasaran. (sTr)
“Good Luck, Have
Fun, Don't Die”
Jenis
Film : Fiksi Ilmiah, Komedi
Sutradara : Gore Verbinski
Penulis :
Matthew Robinson
Producer : Gore
Verbinski, Robert Kulzer, Ervin Stoff, Oly Obst, Denise Chamian
Casts : Sam Rockwell, Haley Lu Richardson, Michael Peña, Zazie Beetz, Asim
Chaudhry, Tom Taylor, Juno Temple
Produksi : Constantin
Film, Blind Wink Productions, 3 Arts Entertainment
Distribusi : Briarcliff Entertainment
(USA). Constantin Film Verleih (Germany
STLS : 17 Tahun
Durasi :
134 Menit

Post a Comment