“Ghost in the Cell” Hantu Sadis Teror Penjara
Jakarta, DJC – Sutradara Joko
Anwar membawa nuansa beda di film terbarunya “Ghost in the Cell” yang akan tayang pada 16 April ini. Jika
sebelumnya menampilkan film-film horror yang terkesan sadis dan mencekam, kali
ini justru menghadirkan horror dengan balutan komedi dan dialog satir pada
kondisi negara saat ini. Di bawah rumah produksi Come and See Pictures bentukannya
bersama sang produser Tia Hasibuan, rupanya sutradara ini mencoba terus mengeksplorasi
film horror lebih luas lagi di film ini. Bekerjasama dengan Rapi Films dan Barunson
E&A (Korea), film ini di bintangi oleh 108 pemeran. Film ini juga bertabur
bitang, mulai dari Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian,
Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio
Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara,
Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus
Miftah. Menariknya sang sutradra memberi peran kejutan yang cukup menantang
pada para cast di atas.
Kisah horror di film ini hadir cukup
inovatif, dengan menggabungkan berbagai genre seperti komedi. Dan faktanya “Ghost in the Cell” mendapat sambutan
positif saat tayang perdana di Berlinale 2026. Film ini juga telah mendapat
respons yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan
film di 86 negara di berbagai benua. Film “Ghost
in the Cell” sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di
Indonesia dan seluruh tiketnya terjual habis (sold out)!
Saat menggelar press conference dan media screening
di XXl Epicentrum, Kuningan Jakarta, (09/04/26), Joko Anwar mengungkapkan film
ini merefleksikan situasi Indonesia
saat
ini, dari isu lingkungan, agama, dan politik. Salah satu isu yang dibahas di
film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaimana seorang koruptor
menjalani ‘hukuman’ namun masih mendapat privilege
untuk bisa berbuat semau mereka.
“Karena situasi Indonesia sudah terlalu
absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap
kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita
sedang melihat diri kita sendiri,” jelasnya lebih lanjut.
Sedangkan menurut sang produser Tia
Hasibuan menambahkan, “Saat world
premiere di Berlinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama
yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap
perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh
aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan dari joke dan satir yang
ada di film.”
Berkisah, seorang wartawan bernama Dimas
(Endy Arfian) masuk lapas Labuhan Angsana, karena dituduh terlibat kematian bos-nya
yang mengerikan. Dimas yang sebenarnya culun, masuk ke lingkungan yang kejam
dan mengerikan. Hingga menjadi incaran Tokek (Aming) seorang predator dan
penjahat yang kejam yang berencana menghabisi dan memperkosa Dimas. Tapi
kemudian justru Tokek ditemukan meninggal secara menggerikan. Hal ini
menimbulkan kecurigaan dan ketegangan dari 2 kubu yang bersaing di penjara,
yaitu kubu Tokek yang dipimpin Rendra (Ho Yuhang), dan kubu Anggoro (Abimana Aryasatya)
tenpat Dimas saat ini bernaung.
Tapi kejadian napi yang meninggal
secara tragis dan menggerikan terus terjadi, termasuk menimpa Jefri (Bront
Palarae), kepala sipir yang terkenal kejam. Sampai diketahui bahwa Dimas
ternyata membawa (ditempeli) sosok hantu yang ingin membalas dendam. Sosok
hantu yang datang dari hutan Kalimantan yang wilayahnya sudah dibabat habis, wilayah
dimana dulu Dimas sempat melakukan investigasi. Hal ini membuat suasana tambah mencekam
di lapas Labuhan Angsana, baik napi maupun sipir berusaha mencari selamat dari teror
pembunuhan yang terkesan random dan sangat brutal. Akan tetapi sosok hantu ini
mengarah pada napi koruptor yang mendapat keistimewaan di lapas tersebut.
Film ini tak hanya menghadirkan
ketegangan dan aksi pembunuhan yang sadis, tapi banyak menampilkan komedi
situasi hingga berbagai dialog-dialog yang menggelikan. Tak hanya itu, beberapa
peristiwa yang mencoba mengkritisi kondisi negeri ini hadir dengan dialog yang
terkesan satir, yang hadir cukup mengena walau sayangnya agak terlalu
mendominasi (terlalu banyak). Di film ini, bahkan sang sutradara juga
menampilkan sebuah bentuk artistik lewat brutalnya aksi pembunuhan.
Selling
point lain di film ini, para pemeran cukup sukses saat menampilkan karakter
yang jauh berbeda dari apa yang pernah dilakoninya selama ini. Misalnya Aming
dengan karakter Tokek, atau Lukman sardi, Bront Palarae, dan beberapa nama
lagi. Film “Ghost in the Cell” tak
hanya bertabur bintang, tapi bertabur karakter kontrovertif yang menarik. Dari
sedih, lucu tapi tetap menggerikan. Sebuah perjalanam yang terus berkembang cukup
signifikan dari seorang Joko anwar dengan rumah produksinya. Hal baru yang
terasa cukup berhasil memberi kejutan. Film yang layak untuk mendapat apresiasi.
(sTr)
“Ghost in the Cell”
Genre : Horror-komedi, Thriller
Sutradara : Joko Anwar
Penulis : Joko Anwar
Produser : Tia Hasibuan
Cast : Abimana Aryasatya, Bront
Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga
Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora
Sudiro,
Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz
Vishal, Jaisal Tanjung, Ho Yuhang, Magistus Miftah.
Production : Come and See Pictures, Rapi Films,
Barunson E&A
Sttls : 17 tahun
Durasi : 106 Menit
Jaswal
tayang : 16 April 2026


Post a Comment