Ksatria Fest 3.0 Digelar Kembali, Sebagai Penguatan Ekosistem Tari Tradipop Indonesia
Jakarta, DJC – Dunia tari sudah menjadi bagian bagi kebudayaan masyarakat tanah air. Untuk iyu Swargaloka kembali menyelenggarakan Ksatria Fest 3.0, yang meruoakan ajang kompetisi tari tradipop tingkat nasional yang mengedepankan sinergi antara nilai tradisi dan pendekatan populer dalam seni pertunjukan. Gelaran ini di inisiasi oleh Kelompok Tari Ksatria, yang dikenal sebagai Juara 1 Indonesia Mencari Bakat pada tahun 2021 lalu. Pada penyelengraaan yang memasuki tahun ke-3, Ksatria Fest menunjukkan konsistensinya sebagai ruang lahirnya talenta-talenta unggulan di bidang tari. Pada edisi sebelumnya, ajang ini berhasil melahirkan kelompok Silak dari Yogyakarta sebagai pemenang tahun 2022, serta Eyes On Us (EOU) dari Kalimantan Barat sebagai pemenang tahun 2023.
Gelaran Ksatria Fest 3.0 ini akan
berlangsung pada 17 Juni hingga 4 Juli 2026 di sejumlah ruang seni terkemuka di
Jakarta, antara lain Galeri Indonesia Kaya, Taman Ismail Marzuki, Teater Usmar
Ismail, dan Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah. Penyelenggaraan
tahun ini menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan 33 tahun
Swargaloka, sehingga rangkaian kegiatan di perluas dengan pendekatan yang lebih
komprehensif, tidak hanya kompetisi tetapi juga edukasi dan kolaborasi.
Adapun rangkaian kegiatan Ksatria Fest
3.0 meliputi: Babak Penyisihan Daring 4 April - 30 Mei 2026. Showcase &
Press Con Ksatria Fest — 17 Juni 2026 di Galeri Indonesia Kaya. Workshop
Intensive — 22–25 Juni 2026 di Ruang Latihan Fakultas Seni Pertunjukan IKJ. Sokalima
(Pertunjukan Tari) — 28 Juni 2026 di Teater Usmar Ismail. Workshop Tari bersama
Seniman Lokal — 29–30 Juni 2026 di Taman Ismail Marzuki. Lomba Solo & Duet
— 2 Juli 2026 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Lomba Tari Kelompok &
Malam Puncak Apresiasi — 4 Juli 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki
Saat nenggelar jumpa pers, yant bertempat
di Galeri Indonesia Kaya (17/05/26), Creative
Director sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro,
peraih Gold Medal PON pada cabang
Traditional Dance Sport, menyampaikan bahwa Ksatria Fest tidak hanya berhenti
pada kompetisi, tetapi juga membangun identitas dan tanggung jawab bagi para
pemenangnya.
Lebih lanjut, Bathara menjelaskan, “Para
pemenang Ksatria Fest akan mendapatkan gelar kehormatan, yaitu Laskar Ksatria
Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk
duet, dan Wira Ksatria Tari Indonesia untuk solo. Gelar ini bukan sekadar
simbol, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam
perkembangan industri tari serta menginspirasi generasi berikutnya. Kami
berharap para pemenang dapat menjadi figur idola baru dalam dunia tari
Indonesia, dengan kualitas teknik sekaligus daya tarik yang relevan dengan
perkembangan zaman.”
Bathara menjelaskan bahwa konsep
tradipop lahir dari kebutuhan industri kreatif saat ini yang menuntut karya
tari yang ringkas, kuat secara visual, dan mudah diakses tanpa kehilangan
esensi budaya. “Dalam banyak kebutuhan industri, seperti televisi atau media
digital, tari tradisi sering kali dipotong secara tidak utuh karena
keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai jawaban—sebuah format tari yang
sejak awal dirancang singkat, eye-catching, dan memiliki kekuatan visual.
Namun, posisinya bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan sebagai pintu
masuk bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya yang lebih dalam,” imbuhnya.
Melalui Ksatria Fest 3.0, Swargaloka
menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem tari Indonesia. Ajang ini
diharapkan mampu melahirkan generasi baru penari yang tidak hanya unggul secara
teknis, tetapi juga memiliki daya jual dan relevansi budaya di tengah perubahan
zaman yang cepat.
Selain penilaian oleh dewan juri
profesional pada babak final, Ksatria Fest 3.0 juga menghadirkan mekanisme
penilaian yang lebih inklusif melalui keterlibatan publik. Para peserta akan
dinilai oleh lima juri utama yang memiliki kompetensi di bidang tari dan seni
pertunjukan, sekaligus oleh voters yang terdiri dari beragam latar belakang,
mulai dari pelajar, pecinta tari, hingga masyarakat umum. Sistem ini dirancang
untuk menghadirkan perspektif yang lebih luas dalam menilai karya, tidak hanya
dari sisi teknis dan artistik, tetapi juga dari daya tarik dan keterhubungan
karya dengan publik. Dengan demikian, karya yang terpilih tidak hanya memiliki
kualitas artistik yang kuat, tetapi juga mampu diterima dan relevan bagi
berbagai lapisan masyarakat.
Ksatria Fest juga dipandang sebagai langkah
strategis dalam menciptakan idola tari Indonesia yang mampu menjadi wajah baru
promosi budaya. Dengan pendekatan kreatif yang mengakar pada tradisi namun
dikemas dalam estetika yang segar dan dekat dengan generasi muda, festival ini
membuka ruang bagi lahirnya ide-ide baru yang inovatif dan kompetitif di
tingkat nasional maupun internasional.
Pendaftaran Laskar Ksatria Tari
Indonesia telah dibuka mulai tanggal 10 April hingga 6 Juni 2026. Seluruh
peserta telah mengirimkan karya mereka dalam bentuk video dan akan dikurasi
oleh Tim Ksatria. Dari 38 Peserta pendaftar, telah terkurasi 15 30 Kelompok
tari dari berbagai daerah. Berikut daftar peserta yang telah lolos ke semifinal
Laskar Ksatria Tari Indonesia :
1. Akusara Art (Surakarta)
2. Soca Niskala Sunda (Bandung)
3. Bejani Art and Dance Studio
(Ponorogo)
4. Sanggar Tari Sirih Besa (Batam)
5. Centaurus (Sidoarjo)
6. Arunika Dance Crew (Pontianak)
7. Antari’kham (Lampung) 8. Sanggar Seni
Dharma Budaya (Pasuruan)
9. Pancakusuma (Rumah Budaya Langen
Kusuma) (Blitar)
10. Ayu Langgeng Management (Lumajang)
11. Efek Samping Jaipongan (Sukabumi)
12. Sanggar Patih Gumantar (Mempawah)
13. Sanggar Hulondhalangi Entertainment
(Gurontalo)
14. Terrafic (Yogyakarta)
15. Pelita Budaya (Belitung)
Nama-nama
ini akan bersaing secara langsung untuk memperebutkan gelar Laskar Ksatria Tari
Indonesia. Lokasi penyelenggaraan Lomba tersebut akan diadakan di Teater Besar
Taman Ismail Marzuki pada tanggal 04 Juli 2026. (sTr)

Post a Comment