Bankit Dari Hiatus, GHO$$ Lepas Full Album “The Whitest Blackout”

GHO$$ (istimewa)

 

Jakarta, DJC – Lama tidak terdengar, unit Dark-Pop / Trip-Hop asal Jakarta ini akhirnya kembali muncul di pentas musik nasional. Kemunculan mereka dibarengi dengan transformasi, terutama di formasi band. Saat GHO$$ kehilangan vokalis / frontman mereka Diego Aditya (2024) yang secara tak langsung membuat band ini hiatus. Kali ini dengan formasi terbaru Diego Shefa Dilanegara, Dhemo Anugerah Poetra, Daniel Clift Papilaya, Kazumasa Albert Pontoh, dan Thotinius Sinambela, akhirnya melanjutkan pengarapan album “The Whitest Blackout” (2017) yang sebelumnya dirilis dalam format mini album. Produksi debut full album bertajuk “The Whitest Blackout” ini membuktikan jika GHO$$ telah berhasil melewati masa hiatus, dan bertransformasi.

            GHO$$ menghadirkan album ini dengan nuansa yang lebih lebar dan eksploratif. Jika rilisan sebelumnya menggambarkan momen ketika kesadaran perlahan menghilang menuju kegelapan, album penuh “The Whitest Blackout “ kali ini justru merepresentasikan fase ketika cahaya mulai kembali hadir, menjadi sebuah metafora tentang bangkit dari kehilangan, trauma, dan proses penerimaan realitas baru. Berisi 12 track, dan masih menghadirkan karakter khas dark pop, trip-hop, dan musik alternative yang berkembang di era 90-an.

            Dengan formasi terakhir, lagu-lagu di album ini terasa lebih fresh. Lagu pembuka ‘Train’ merupakan sebuah komposisi ambient yang menjembatani dua fase perjalanan GHO$$, album ini kemudian membawa pendengar memasuki berbagai kisah tentang depresi dalam di lagu‘Her’ selanjutnya keberanian keluar dari hubungan yang abusif  di ‘2N8’, hingga seseorang yang terus terjebak dalam siklus penderitaannya sendiri di ‘Dude’.

Perjalanan emosional tersebut dilanjutkan dengan ‘Break yang menampilkan kontribusi vokal dari Madukina, menggambarkan proses refleksi tentang kerinduan pada pelarian di masa lalu sekaligus harapan bahwa setiap luka pada akhirnya akan sembuh. Kemarahan akibat kehilangan seorang sahabat dituangkan dalam ‘My Song 6’, sementara ‘666’ menggambarkan pertarungan tanpa akhir antara akal sehat dan sisi gelap yang dimiliki setiap manusia. Di sisi lain, ‘#SADBOYSCLUB’ dan ‘Purple Season’ mengangkat cerita tentang hubungan yang rumit, kehilangan, dan cinta yang harus berakhir karena keadaan

Menjelang akhir album, nuansa berubah menjadi lebih reflektif melalui ‘Bridges’  dan ‘SAME’ yang berbicara tentang proses menerima pengalaman hidup, rasa kecewa, hingga kesadaran bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki luka yang serupa. Album ditutup oleh ‘Die & Go sebuah penghormatan yang sangat personal bagi mendiang Diego Aditya, salah satu pendiri GHO$$, yang menjadi simbol penerimaan atas kehilangan sekaligus langkah untuk terus melanjutkan perjalanan.

Album ini menjadi debutan GHO$$ yang sepenuhnya diproduksi secara mandiri. Seluruh proses rekaman, mixing dan balancing dikerjakan oleh para personel sendiri dengan semangat DIY, sementara proses mastering dipercayakan kepada Stephan Santoso (Musikimia) di Slingshot Studio. (sTr)

 

 

Diberdayakan oleh Blogger.