Eva Under Fire Suarakan Untuk Yang Dikiananti di “Murder Scene”

Eva Under Fire (istimewa)

 

Jakarta, DJC – Banyak lagu yang lantang menyuarakan orang yang disakiti atau dikhinanati. Salah satunya lagu dari pengusung post hard rock asal Detroit, USA ini. Di single terbarunya yang bertajuk ‘Murder Scene’ band Eva Under Fire meyuarakan teriakan perlawanan yang emosional dan jujur, mengubah luka batin menjadi sebuah anthem kekuatan diri bagi siapapun yang pernah dikhianati. Single terbaru dari band berawak Amanda "Eva Marie" Lyberg (vocals), Rob Lyberg (guitar), Chris Slapnik (rhythm guitar), Ed Gawlik (bass) dan Dave Miller II (drums) ini dilepas pada 6 Februari 2026 lalu melalui Better Noise Music.

Single ini hadir dengan sound keras serta lirik yang tajam, ‘Murder Scene’ membahas isu sensitif seperti gangguan makan, body dysmorphia, kecemasan, dan tekanan mental yang muncul ketika sorotan publik berubah menjadi sebuah penghakiman. Lagu ini terasa brutal sekaligus rapuh, sebuah potret yang nyata tentang pertarungan batin.  

Melalui siaran pers-nya sang vokalis Amanda Lyberg mengungkapkan, “Lagu ini mengeksplorasi gangguan makan, citra tubuh, keraguan diri dan bagaimana mimpi bisa berubah menjadi mimpi buruk ketika orang-orang yang dulu mendukungmu justru mulai mengkritikmu. Kecemasan adalah pembohong di kepalaku. Ia bilang aku tidak pantas berada disini. Aku melawannya, tapi suaranya semakin keras dan rasanya seperti ingin membunuhku.”

            Perilisan lagu ini menjadi kelanjutan dari ‘Awakening’ (2025) dan menandai era baru band ini yang semakin terbuka dan konfrontatif. Dengan latar belakang Amanda sebagai terapis berlisensi, band ini secara konsisten membuka ruang dialog tentang kesehatan mental melalui musik mereka. Untuk mendukung perilisan ‘Murder Scene’, Eva Under Fire akan menjalani tur Amerika Serikat bersama Jeris Johnson dan Butcher Babies, mengajak para pendengar untuk bernyanyi bersama dalam solidaritas dan kekuatan. (sTr)

 

 

Diberdayakan oleh Blogger.