Temarram Lepas Debut Album “Antara Angkara”
![]() |
| Temarram (istimewa) |
Jakarta, DJC – Perjalanan musikal
yang termasuk panjang, Temaram membuktikan bahwa mereka terus dan giat
berkarya. Setelah melepas EP bertajuk “Montase”
pada 2022, “Selubung Abadi” pada
2023, serta single ‘Pusara’ pada
2025, kini band yang didirikan pada tahnu 2021 ini merilis debut full album bertajuk “Antara Angkara” pada 11 September 2025 lalu. Full album ini berisi 8 track
yang merangkum serpihan reruntuh kehidupan, ketiadaan, harapan, dan penyesalan.
Dimulai dengan perilisan single ‘Pusara’
album ini membawa pendengar memasuki lorong keruntuhan diri, tempat kehidupan
memaksa manusia bersimpuh, dan meratap serpihan yang tertinggal: kehidupan,
ketiadaan, harapan, serta penyesalan. Dan yang menarik di album ini pula, band
berawak Regga Prakarso (gitar, programmed synthesizer), Sherina Redjo (vocal), serta
Tanthowi (bass) mengajak kolaborasi beberapa nama musisi, yang antara lain, Pandu
Fuzztoni, Otong Koil, dan Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass.
Masih menghadirkan karakter synthwave/darkwave/post-punk, album ini dimulai
melalui ‘Dan Kau Terlunta’, yang menggambarkan penyesalan atas ambisi
yang perlahan menghancurkan kehidupan. Mimpi-mimpi yang terpaksa dirampas oleh
rutinitas dituangkan dalam ‘Reruntuh’, sementara ‘Aksioma
(feat. Gerry Laini Fauzi)’ menyuarakan amarah dari sebuah hubungan
dan perpisahan. Melalui ‘Pusara’, perjalanan tersebut
berbalik menjadi kesadaran bahwa kita memasung diri pada petaka yang kita
ciptakan.
Perenungan berlanjut melalui ‘Tak
Tergenggam’, yang berbicara tentang kehidupan hanya dapat dimiliki
sebagian orang. ‘Semesta Semesta’ kemudian menjadi
sepercik harapan di antara segala yang telah runtuh, sebelum ‘Afeksi
dan Mati (feat. Otong Koil)’ membawa kita kembali bersimpuh pada
realita. Album ini ditutup oleh ‘Pengakhiran Permulaan’, tentang
penerimaan bahwa setiap akhir akan membuka sebuah permulaan baru.
Album
ini mempercayakan Pandu Fuzztoni untuk menjadi produser. Nama Suvi Karjalainen seniman asal
Finlandia. dipercaya untuk menggarap artwork.
Suvi menerjemahkan “Antara Angkara”
sebagai sebuah ruang tempat bersimpuh. Sebuah gambaran yang terasa dekat dengan
isi albumnya: manusia yang berhenti sejenak di hadapan segala sesuatu yang
telah runtuh, tanpa benar-benar tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. (sTr)

Post a Comment