MALIQ & D’Essentials Lepas “Arah Labuh” Untuk Menuju Babak Baru

MALIQ & D’Essentials (istimewa)

 Jakarta, DJC – Band MALIQ & D’Essentials masih bisa membuktikan eksistesinya, setelah lebih 2 dekade hadir di industri musik tanah air. Dan menjelang peringatan 25 tahun berkarya, band berawak Angga Puradiredja, Widi Puradiredja, Indah Wisnuwardhana, Dendy ‘Jawa’ Sukarno, Arya ‘Lale’ Aditya Ramadhya, dan Ilman Ibrahim Isa ini baru saja melepas single terbaru vertajuk ‘Arah Labuh’. Single terbarunya ini sekaligus akan menjadi pembuka menuju exhibition dan album terbaru yang akan dirilis pada 12 November mendatang. Lagu ini ditulis oleh Widi Puradiredja dan Indah Wisnuwardhana bersama seluruh personel band, dimana ‘Arah Labuh’ berkisah tentang keberanian melangkah tanpa harus mengetahui seluruh jawabannya sejak awal.

Makna lirik dari lagu ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap langkah membawa pengalaman dan cerita yang layak dijalani. Semangat tersebut terasa sejak bait pembukanya:

“Lihat bintang yang terjauh, mari ke sana menyentuh.” Melalui metafora bintang, samudra, dan tempat berlabuh, lagu ini berbicara tentang dorongan untuk melihat lebih jauh, mencoba hal-hal baru, dan tetap melangkah meski arah di depan belum sepenuhnya jelas. Lagu ini juga mengakui bahwa keraguan dan salah langkah merupakan bagian dari proses. Alih-alih larut dalam kegelisahan, MALIQ & D’Essentials menghadirkan sudut pandang yang hangat dan membumi. Hidup tidak harus selalu berjalan sempurna untuk tetap layak dinikmati. Kadang yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mengambil langkah berikutnya.

Pesan tersebut terasa dekat dengan kisah MALIQ & D’Essentials sendiri. Hampir seperempat abad sejak pertama kali melangkah, band ini terus berkembang bersama berbagai generasi pendengar, menjelajahi beragam warna musikal, dan mempertahankan karakter yang membuat karya-karya mereka tetap relevan.Secara musikal, ‘Arah Labuh’ tetap membawa karakter hangat dan organik yang telah lama menjadi ciri khas band ini. Harmoni vokal yang kaya, permainan instrumen yang dinamis, serta aransemen yang mengalir menghadirkan suasana yang lapang dan penuh energi.

Di titik perjalanan mereka saat ini, ‘Arah Labuh’ terasa seperti sebuah penanda. Bukan tentang melihat ke belakang, melainkan membuka ruang bagi cerita-cerita berikutnya yang akan berkembang menuju 2027. Karena pada akhirnya, berlabuh bukan selalu berarti sampai di tujuan. Terkadang, berlabuh adalah tentang menemukan keberanian untuk kembali berangkat. (sTr)

 

 

 

Diberdayakan oleh Blogger.